Anak Kecanduan Game Online, Ini Cara Mengatasinya

GAYA HIDUP

JAKARTA, Bikin Berita – Bermain game online membuat anak berlama-lama menatap layar hand phone atau komputer, menjadi tak terhindarkan. Tetapi, kondisi tersebut sangat mengkhawatir, karena akan berakhir dengan kecanduan.

Permasalahan tersebut, tidak dapat diabaikan begitu saja karena bisa berakibat buruk. Kementerian Kesehatan mengeluarkan pernyataan,  bahwa seseorang yang adiksi (kecanduan) akan mengalami perubahan pada struktur dan fungsi otak.

Dikutip dari CNNIndonesia, gangguan pada otak yang dimaksud bisa mengakibatkan seseorang kehilangan beberapa kemampuan atau fungsi otaknya. Beberapa kemampuan yang hilang seperti fungsi atensi untuk berkonsentrasi, fungsi eksekutif untuk merencanakan sesuatu, dan fungsi inhibisi atau kemampuan untuk membatasi diri.

Perubahan fungsi otak tersebut akan membuat seseorang sulit fokus pada sesuatu, memiliki emosi yang tidak stabil, dan tidak mengenali batasan fisiknya. Seorang yang adiktif pada game online akan terus bermain game demi sebuah misi atau perintah game tersebut, meski fisiknya sudah lelah.

Kecanduan pada game online juga membuat seseorang berlaku impulsif. Beberapa hari terakhir ini, seorang anak dilaporkan menghabiskan uang hingga Rp800 ribu hanya untuk membeli voucher game online. Bisa dibilang, anak tersebut sudah masuk dalam fase kecanduan.

Psikolog Anak Ratih Zulhaqqi mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu memutus kecanduan anak pada game online.

“Kalau untuk anak-anak yang kecanduan [game online] memang harus dipotong circle game itu, tapi itu enggak bisa dilakukan oleh anak sendiri, harus ada peran orang tua,” kata Ratih, Senin (17/5).

Memutus kecanduan game online pada anak biasanya memerlukan bantuan seorang ahli seperti psikolog. Namun bertemu psikolog saja tak cukup, Ratih mengatakan, peran orang tua di rumah merupakan hal yang paling penting untuk mengatasi kecanduan game online pada anak.

Berikut cara menghentikan kecanduan game online pada anak.

BACA JUGA :  Mutasi Covid-19, Dokter:  Gejala Corona B117 Hampir Sama

 

Komitmen orang tua di rumah

Hal pertama yang dibutuhkan adalah komitmen orang tua dan orang dewasa lainnya di rumah untuk membantu memutus kecanduan game online pada anak.

Setiap orang dewasa yang ada di rumah harus mengetahui bahwa mereka akan membantu si anak untuk menghentikannya dari kecanduan game online. Sehingga mereka akan menjadi ‘pengawas’ jika anak ketahuan bermain game.

“Tapi gak pakai kekerasan ya, pastikan buat iklim yang nyaman di rumah untuk membantu anak lepas dari gawai atau komputernya,” kata Ratih.

 

Memutus koneksi anak dengan gawai atau komputer

Langkah kedua adalah memutus koneksi anak dengan gawai atau komputer. Sebagai permulaan, orang tua bisa membatasi waktu layar atau screen time anak dengan komputer atau gawainya.

Waktu screen time termasuk saat anak menonton YouTube, atau mencari hiburan lainnya melalui layar handphone, komputer, atau bahkan televisi.

Ratih mengatakan setelah membatasi waktu screen time, idealnya orang tua mulai sedikit tegas dengan melakukan ‘grounded’ atau memaksa anak lepas dari gawai dan komputernya selama minimal 3 minggu hingga 3 bulan.

Ketika harus bersekolah daring, pastikan anak hanya menggunakan gawai atau komputernya untuk keperluan sekolah tanpa membuka jendela YouTube atau game online.

Berikut cara menghentikan kecanduan game online pada anak.

 

Mempersiapkan efek tantrum

Saat anak dipaksa lepas dari gawainya dalam waktu lama, dia biasanya akan mengalami efek tantrum atau ledakan emosi.

Efek tantrum bisa berupa sikap keras kepala, emosi berlebihan, menangis, menjerit, hingga kekerasan atau membanting-banting benda. Bisa dibilang, momen ini adalah saat tersulit dalam memutus kecanduan game online pada anak.

Ratih juga menyebut banyak orang tua yang menyerah saat si anak sudah masuk dalam efek tantrum ini. Padahal, setelah efek tantrum ini berhasil dilewati, maka anak akan mulai terbiasa hidup tanpa gawai atau komputer.

BACA JUGA :  Hati-hati dengan Sunat Laser

“Terkadang orang tua gak tahan dari efek tantrum, mungkin bisa sampai memukul, menendang, teriak-teriak, hingga segala macam. Nah yang perlu dilakukan sebenarnya manajemen perilaku. Orang tua harus kembali mengambil perannya di sini,” kata Ratih.

“Jadi harus saling back up antara suami-istri. Kalau mama nya capek ya udah bapaknya maju, tapi bukan dimarahin ya. Dibicarakan baik-baik, ‘gak apa-apa kamu marah, rasanya gak enak bgt gamenya diambil, tapi ini demi kebaikan kamu loh, ayo kita berjuang yuk’, bicarakan baik-baik kepada anak,” jelas Ratih.

Berempati pada anak

Berempati saat anak sedang dalam efek tantrum bisa membantunya mengendalikan emosi.

Orang tua dapat menjelaskan bahwa dirinya juga sedih harus melihat sang buah hati kesulitan. Orang tua juga bisa mengatakan emosi yang dirasakan si anak merupakan hal wajar, dan tidak disalahkan.

Namun ketika anak mulai melakukan kekerasan, orang tua harus memberikan penjelasan bahwa kekerasan itu dilarang, dan tidak ada pembenaran di balik kekerasan. Sebagai gantinya, orang tua bisa mengajak anak berolahraga atau melakukan kegiatan motorik lainnya yang dapat membantu anak meluapkan emosi.

“Ketika berolahraga, tenaganya akan dikeluarkan untuk olahraga, sehingga ia tidak punya energi lagi untuk marah-marah,” ucap Ratih.

Ratih juga menegaskan bahwa bukan kesalahan anak jika ia kecanduan game online. Jika anak sudah dalam tahap kecanduan, maka ada peran orang tua yang hilang dalam proses pengasuhan anak.

“Artinya ketika anak sudah sampai kecanduan game, itu sudah pasti bukan salah anaknya. Coba lihat mulai dari fasilitas yang ada hingga akses ke game. Semuanya kan disediakan oleh orang tua,” tuturnya. (res/mel/CNNIndonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *